Karena rinduku menetes sebanyak tetes gerimis, genggamlah jantungku & hitunglah denyutannya…Sebanyak itulah aku merindukanmu, karena ini ia dinamakan si jantung hati. Memompa lembut seperti angin memijit langit, berdenyut lincah seperti buih yang terus berkelit… Dan darah cinta adalah udara, dengan roh yang menumpang lewat di dada…
Aku merasa begitu kecil dalam keluasanku. Rintikmu raksasa dalam mungil tetesmu…Engkau menyelimuti dengan dingin, dan semakin engkau merapat semakin membara alam ini. Jutaan engkau kini turun membanjiriku. Tak akan pernah aku meluap, kugali tanahku lebih dalam & kubuka semua celah untuk menyerapmu. Mengertikah kini, karena itu aku ingin hidup nyata…
Aku baru mengenalmu, namun aku tidak ingin menyakitimu…Apa yang kau miliki sekarang amatlah aku inginkan, dan untuk mengerti tidaklah sulit. Disaat seperti ini ijinkan aku mempertanyakan. Di manakah engkau letakkan aku?? Adakah aku seberharga bulan di malam hari?…Ataukah namaku hanya melintas sekilas di detik-detik terakhirmu??…
Aku bukan orang yang lemah! Kalau aku lemah, sudah kubersembunyi di dasar lembah. Namun aku orang yang kuat. Dengan dagu tercuat, menggenggam kejujuran erat-erat. Tapi kalau cuma jadi ‘hantu’ maka aku pun tak tau…
Layakkah cinta hidup semu laksana hantu? Yang melayang bagai bulu panah. Aku ingin menjejak tanah, mengambang membuatku lelah..Aku ingin memiliki, aku ingin diakui…
Lihatlah aku…Aku melayang tinggi, menembus semua akal. Cinta tak pernah jadi ‘hantu’, ia menjejak nyata di seluruh jagad raya. Dan itulah aku!! Ada saat aku berusaha membunuh jiwaku…Ada saat hatiku sekarat…Biarkan aku meregang untukmu. Dan di saat aku melesat, aku membebaskanmu dengan kebebasan mutlak. Aku menyayangimu..dan akhirnya mulai mencintaimu, lebih dari yang kamu tau…
Itulah rima dari puisi yang tak pernah habis: HIDUP! Dan bila jantung berhenti? Puisi adalah roh bertabir kata. Roh itu, tak pernah mati. Tak pernah pergi? Ia segalanya…segalanya ada padamu. Di dalam diriku. Termasuk kamu…
Tak ada yang aku sesali. Aku harap kamu juga demikian. Tak ada cara yang mudah untuk menyatakan ini semua, aku yakin kamu mengerti. Dan tak ada yang aku cintai lebih dalam selain perasaan indah yang pernah kita miliki (dan semoga masih terus kita miliki). Tapi aku mungkin bukan orang yang kamu harapkan dan inginkan….Mungkin bukan aku yang bisa mengisi jiwa dan bahagiamu, hangat jiwaku tak mampu cairkan dingin hatimu. Di satu titik, perasaan indah itu telah mengkristal, dan aku akan menyimpannya. Selamanya….
Kamu adalah yang teristimewa. Kamu telah memberi kekuatan mendobrak belenggu itu. Belenggu luka lalu yang lama mengendap dalam hatiku…Sekarang aku bebas…tapi kamu tidak ingin kita berjalan bersama. Ijinkan aku kembali berjalan di setapak kecilku, sendiri…bila kamu ingin melepasku. Aku akan kembali ‘terbang’ bersama sisa rasaku…Aku akan pergi mencari makna diri, Dimana aku akan lebih berarti untuk jiwa seseorang…
Disaat bukan hanya rasa sayang yang aku miliki untukmu, aku menyerah…meski air mata untukmu. Tidak semua yang aku inginkan bisa kumenangkan. Di ujung batas letihku, akhirnya aku menyadari ternyata tatap matamu mengisyaratkan bukan aku yang kamu inginkan…Bukan aku yang mampu mengisi hatimu. Mungkin aku pecundang yang tak sanggup perjuangkan cintaku. Maafkanlah aku, hanya sebeginilah kemampuanku. Andaikan aku bisa berbuat lebih…untuk KITA!